Beranda Daerah LBH Mapancas Siap Perjuangkan Nasib Petambak Tradisional Blanakan Yang Tercemar Limbah Vaname

LBH Mapancas Siap Perjuangkan Nasib Petambak Tradisional Blanakan Yang Tercemar Limbah Vaname

228
0

SUBANG-Para petambak tradisional di Desa Jayamukti Kecamatan Blanakan yang jadi korban limbah tambak udang vaname mengadukan nasibnya ke Lembaga Bantuan Hukum Mahasiswa Pancasila (LBH MAPANCAS) Jawa Barat.

Mereka merasa sudah tidak mendapat perhatian dari pemerintah. Bahkan mereka curiga anggota dewanpun lebih memihak pengusaha udang vaname ketimbang memperjuangkan nasib petani tambak tradisional yang jumlahnya ratusan orang.

“Ada dewan daerah dan DPR pusat malah kelihatannya lebih memihak vaname. Pemkab juga tidak memperhatikan nasib kami, buktinya belum ada tindakan tegas untuk mengatasi pencemaran limbah vaname yang merugikan kami. Kami berharap LBH Mapancas ini bisa bantu perjuangkan nasib kami,” ujar perwakilan petambak tradisional Blanakan, Acep Suryana, bersama rekan-rekannya didampingi tokoh warga Blanakan, Bambang Marwoto, saat bertemu dengan jajaran LBH MAPANCAS Jabar, Rabu (1/7/2020).

Mewakili para petambak, tokoh masyarakat Kecamatan Blanakan, Bambang Marwoto, mendesak pemerintah memperhatikan petambak tradisional dengan mengupayakan langkah antisipasi pencemaran limbah vaname dan memperbaiki pendangkalan saluran tambak.

Dia menyampaikan, hasil uji laboratorium Dinas Lingkungan Hidup Jabar jelas menyatakan limbah udang vaname mencemari lingkungan. Bahkan Ombudsman Jabar sudah memerintahkan agar tambak udang vaname ditutup sementara.

“Plang penutupan pun sudah sempat dipasang sebanyak 3 buah di lokasi, tapi malah ada yang nyabut semua. Jelas ini pelanggaran. Kita berharap putusan Ombudsman ditindaklanjuti pemkab dengan menutup sementara tambak vaname. Kasian para petambak tradisional ini sudah mengalami kerugian bertahun-tahun sejak 2014 karena produksinya anjlok dampak pencemaran,” imbuh Bambang.

Pimpinan LBH MAPANCAS Jabar, Sachrial, SH, didampingi Aji Saptaji, SH, menegaskan siap membantu memperjuangkan nasib para petambak tradisional Blanakan.

“Keluhan maupun persoalan-persoalan yang dialami para petambak ini secepatnya kami pelajari, kami segera siapkan langkah-langkah untuk membela nasib mereka,” tegas Sachrial.

Sebelumnya diberitakan, ratusan petambak ikan tradisional di Desa Jayamukti Kecamatan Blanakan mengeluhkan memburuknya kehidupan mereka semenjak hadirnya aktivitas usaha tambak udang vaname.

Selain penghasilan mereka anjlok, kehadiran tambak intensif udang vaname yang limbahnya ditengarai mencemari lingkungan mengakibatkan ribuan warga terancam kehilangan mata pencaharian sehari-hari.

Ketua kelompok petambak tradisional Desa Jayamukti Kecamatan Blanakan, Acep Suryana, mengungkapkan kondisi menderitanya para petambak dalam beberapa tahun terakhir sejak kehadiran tambak intensif vaname.

Acep menyebut, budidaya intensif udang vaname di daerahnya merupakan hal baru dan hanya dilakukan oleh beberapa orang bermodal besar.

“Disini usaha udang vaname baru mulai sekitar tahun 2012 silam. Jumlahnya enggak banyak, sekitar belasan orang, tapi punya modal,” katanya.

Berkebalikan dengan udang vaname, ungkap Acep, usaha primadona mayoritas petambak tradisional didaerahnya yang berlangsung turun temurun sejak lama justru adalah tambak udang-udang lokal, seperti udang Impes, Lempa, Peci dan Bago. Termasuk juga budidaya udang windu dan ikan bandeng.

“Tambak-tambak udang lokal ini sudah ada sejak tahun 1965-an dan kami meneruskan usaha orangtua kami itu sampai sekarang,” ujar pria yang akrab disapa Angga ini kepada Jabarpress.com, Jum’at (3/7/2020) didampingi tokoh warga Blanakan Bambang Marwoto dan beberapa rekannya sesama petambak tradisional.

Dia mengatakan, hingga kini, jumlah petambak tradisional di Desa Jayamukti Kecamatan Blanakan sebanyak 373 orang, dengan luas lahan tambak mencapai 800-an hektar.

Dengan rasio kebutuhan pekerja rata-rata sebanyak 10 orang per hektar tambak, usaha tambak tradisional ini mampu menyerap sedikitnya 8.000-an tenaga kerja.

Tak hanya itu, tambak tradisional ini memicu tumbuh menjamurnya profesi-profesi ekonomis lainnya yang ikut merasakan manfaat dari adanya tambak tradisional.

“Seperti pencari kepiting, pencari belut, pencari ikan di saluran-saluran tambak, pengobor, bakul-bakul kecil dan sebagainya. Jumlah mereka banyak sekali,” paparnya.

Namun, kata Angga, semenjak adanya tambak intensif udang vaname dengan limbahnya yang diduga mencemari lingkungan, produksi petambak tradisional menurun drastis, penghasilan anjlok dan ribuan pekerja tambak terancam kehilangan mata pencaharian. Bahkan, akibat ekosistem lingkungan tercemar limbah, banyak profesi warga turut hilang.

“Tambak-tambak jadi tidak terurus, pendapatan kami terus menurun, kami jadi enggak bisa pekerjakan orang lagi. Padahal jumlah pekerja tambak tradisional ini ribuan orang lho. Terus karena saluran-saluran tambaknya rusak, dangkal, tercemar limbah, banyak sekali mata pencaharian warga lainnya seperti pencari kepiting, pencari belut, pencari ikan, juga ikut hilang akibat ekosistem lingkungan rusak tercemar,” paparnya diamini Kadra, Idin, Cardia Jiol, Iman serta sesama petambak lainnya.

Dia mencontohkan, sekitar tahun 2000-an silam jauh sebelum ada tambak udang vaname, satu hektar tambak tradisional bisa menghasilkan 10 kg udang Impes per harinya. Udang jenis ini adalah udang alami yang berasal dari laut dan masuk ke areal tambak.

“Bagi kami para petambak tradisional, usaha udang lokal ini merupakan usaha pokok harian, mampu menghidupi kebutuhan keluarga sehari-hari, termasuk biaya sekolah anak-anak dan menghidupi para pekerja tambak,” ucapnya.

Dalam satu hektar, tambaknya rata-rata bisa menghasilkan 10 kg udang Impes per hari dengan harga saat itu Rp9.000/kg. Namun kini setelah ada tambak vaname, produksi udang Impes anjlok, bahkan nyaris hilang, menyebabkan penghasilan mereka turun drastis.

“Per hektar cuma dapat 3 ons udang Inpes dengan harga Rp40.000/kg, artinya hampir 99% hilang pendapatan kami, sebab udangnya mati tercemar limbah vaname dan saluran-saluran tambaknya dangkal,” imbuh Kadra, petambak Desa Jayamukti.

Selain usaha pokok harian berupa udang lokal Impes, mereka juga punya usaha pokok musiman berupa usaha budidaya ikan bandeng, udang windu dan bago.

Angga kembali mencontohkan, pada tahun 2000-an, per hektar tambak rata-rata ditanami 2.500 ekor benih ikan bandeng. Dalam kurun 3 bulan kemudian sejak ditanam, pihaknya bisa memanen bandeng 10 blong per hektar, atau totalnya sebanyak 400-500 kg bandeng (1 blong setara rata-rata 50 kg) per hektar per 3 bulan. Dengan harga bandeng saat itu kisaran Rp11.000-15.000/kg.

Lalu di tahun 2010, pihaknya masih bisa menghasilkan ikan bandeng sebanyak 300-400 kg/hektar per 3 bulan dengan harga Rp15.000-17.000/kg.

Namun, setelah ada tambak intensif udang vaname, pendapatan mereka dari usaha pokok musiman inipun turut anjlok. Tak hanya itu, durasi panen yang lazimnya per 3 bulan, saat ini ada perlambatan pertumbuhan ikan menjadi 5 bulan dengan produksi yang menurun drastis.

“Bayangkan saja, begitu ada vaname, kami nanam 10.000 ekor bandengpun enggak pernah hasilnya dapat 5 kwintal. Tahun 2018 kemarin, setelah 5 bulan tanam, kami cuma dapat 2 blong per 2 hektar, totalnya cuma 70 kg, sudah gitu size (ukuran) ikannya kecil-kecil, harganya pun cuma Rp9.500/kg. Jadi setelah ada vaname memang ada perlambatan panen dari biasanya 3 bulan jadi 5 bulan. Karena makanan alami ikan seperti plankton atau lekap hilang atau mati akibat limbah pencemaran. Kami bener-bener rugi besar dari tahun ke tahun,” keluh mereka.

Bahkan saat ini, khusus untuk usaha budidaya udang lokal windu dan bago, kian sedikit yang mengerjakannya. Padahal, sepanjang kurun waktu 1965 hingga 1995-an, usaha udang windu/bago ini pernah jadi primadona usaha pokok musiman bagi warga Desa Jayamukti Kecamatan Blanakan.

“Waktu itu sangat dikenal banyak petambak bisa pergi ibadah haji berkat penghasilan yang bagus dari udang windu/bago. Tapi sekarang, itu cuma kenangan,” keluhnya.

 

Ahya Nurdin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini