Beranda Daerah Ponpes Darul Falah Manfaatkan Smartphone Untuk Santri Memperdalam Ilmu Agama

Ponpes Darul Falah Manfaatkan Smartphone Untuk Santri Memperdalam Ilmu Agama

143
0

SUBANG – Era digitalisasi  saat ini, tidak sedikit Pondok Pesantren yang memanfaatkan smartphone (gawai)  sebagai literasi belajar dan memperdalam ilmu agama. Seperti yang dilakukan Ponpes Darul Falah Cisalak Subang.

Agung salah seorang santri Ponpes Darul Falah Cisalak mengatakan, Ustad atau pengajar serta pimpinan Pospes tidak melarang para santrinya membawa gawai  ke pondok. Namun penggunaan teknologi digital itu  para santri diarahkan ke hal yang positif, gawai digunakan untuk belajar kitab kuning misalnya.

“Kita mengunduh aplikasi kitab kuning dari playstore. Jika ada penulisan yang salah dalam aplikasi tersebut, maka ustad atau pengajar membacakan kitab kuning yang aslinya, maka kita tahu ada kesalahan di dalm kitab kuning yang ada dalam aplikasi itu, dan kita bisa tahu positif dan negatifnya penggunaan smartphone tersebut,” kata Agung di Subang, Sabtu (14/9/2019).

Agung yang merupakan santri  asal Jakarta itu menyatakan, pihak Ponpes juga mengarahkan para santrinya, untuk memanfaatkan gawai itu selain untuk belajar, sekaligus sebagai media berdakwah, dan belajar berwirausaha.

“Kami disini, diajarkan oleh Pimpinan Ponpes Pak Ustadz Ridwan Hartiwan, tidak hanya belajar dan mendalami agama melalui smartphone itu, tetapi juga diajarkan berdakwah, dan juga berwirausaha,” terangnya.

Pernyataan serupa disampaikan rekan Agung Alifi Firdaus, Pimpinan Ponpes, tidak mengekang para santri  untuk tidak menggunakan gawai, justru  diberikan kebebasan menggunakan untuk mengekspresi seni dan budaya yang dilakukan para santri.

“Para santri dipandu langsung oleh pimpinan Ponpes dalam penggunaan smartphone, ke hal-hal yang lebih positif,” singkat Alfi.

Sementara itu pimpinan Ponpes Darul Falah Cisalak Ustadz Ridwan Hartiwan memaparkan, penggunaan gawai bagi santrinya di pondok, selain sebagai sarana edukasi, sekaligus untuk berekspresi bahkan di era digital ini Para  santri juga diajarkan untuk memiliki jiwa wirausaha, agar kelak saat kembali ke masyarakat kewirausahaannya bisa dikembangkan.

“Kami tidak melarang para santeri membawa handphone ke pondok, tetapi dengan catatan digunakan untuk hal-hal yang positif, kami bimbing mereka, untuk mengembangkan ilmu, untuk mencari referensi ilmu agama, untuk berekspresi sekaligus mencari peluang usaha,” ucapnya.

Selain itu kata Ridwan di era digital ini, dunia pendidikan non formal seperti ponpes tidak mau kalah dengan pendidikan formal, karena semua jebolan ponpes dituntut untuk memiliki wawasan dan kemampuan yang lebih baik, dan memiliki dayasaing yang tinggi di masyarakat.

“Apalagi saat ini Lembaga Adat Karatwan Galuh Pakuan sedang membangun pandu desa digital, yang bekerjasama dengan Pemkab Subang, BAKTI, dan BP2DK serta Kemenkominfo, kami ingin memanfaatkannya secara maksimal, agar era digital ini lebih memberikan hal yang positif bagi para santeri, dan masyarakat, sekaligus menjadikan generasi muda millenial yang cerdas yang nerakhlak mulia, untuk menuju Indonesia emas,” pungkasnya.

Ahya Nurdin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini