Beranda Headline Wisata Religi! Mengenal Sejarah Makam Kramat Syeh Eyang Haji Jaya Kusuma Cisalak...

Wisata Religi! Mengenal Sejarah Makam Kramat Syeh Eyang Haji Jaya Kusuma Cisalak Subang

374
0

SUBANG – Selain kekayaan alam yang melimpah, Kabupaten Subang juga dikenal memiliki banyak destinasi spiritual, seperti makam-makam keramat para tokoh atau ulama penyebar Islam.

Diantaranya, makam Waliyullah Syeikh Eyang Haji Jaya Kusuma yang berlokasi di Kampung Dayeuh Luhur Desa Cimanggu Kecamatan Cisalak.

Kru Indowarta Xpress Media Grup (Indowarta Grup) berkesempatan mengunjungi makam yang dikeramatkan itu sekaligus menziarahinya, Minggu (2/2/2020).

Ziarah tersebut didampingi tokoh masyarakat Cimanggu yang juga Kepala KUA Cisalak, Aminullah, tokoh pemuda yang juga Ketua Karang Taruna Desa Cimanggu, Japar, Ketua RT Kampung Citali, serta Pimpinan Ponpes Darul Falah Cimanggu, Ust Ridwan Hartiwan.

Dari jalan raya Cisalak-Tanjungsiang, Desa Cimanggu, makam keramat ini bisa ditempuh menggunakan motor atau mobil sejauh sekitar 4 kilometer memasuki kawasan perkampungan Citali.

Makam Eyang Jaya Kusuma berlokasi di kawasan perbukitan hutan yang cukup dekat dengan perumahan penduduk, tepat di tengah rerumpunan bambu.

Tepat di jalan masuk ke lokasi makam, terdapat gapura bertuliskan “Makam Waliyullah Syekh Eyang Haji Jaya Kusuma”.

Di lokasi ini, ada dua makam berukuran besar, bentuknya sederhana, dikelilingi batu-batu, jauh dari kesan makam seorang tokoh agama yang dikeramatkan, bahkan dengan sebutan “Waliyullah”.

“Yang satu makam Eyang Jaya Kusuma, satu lagi makam istrinya, Eyang Haji,” ujar tokoh masyarakat Desa Cimanggu, Aminullah

Menurut Aminullah, berdasarkan penuturan lisan dari para tetua masyarakat sebelumnya, Eyang Jaya Kusuma merupakan keturunan Mataram.

“Beliau sosok ulama yang menyebarkan Islam di wilayah Selatan Subang, khususnya di Cisalak,” ucapnya.

Namun, terkait silsilah keturunan Eyang Jaya Kusuma, perjalanan hidup dan hubungannya dengan para tokoh penyebar Islam lainnya di wilayah Subang, pihaknya mengaku kurang mengetahui.

Sebab, para tetua masyarakat yang dianggap tahu sejarah hidup Eyang Jaya Kusuma, sudah tidak ada.

Makam ini, sambung dia, kerap diziarahi oleh banyak orang, baik dari Subang maupun luar Subang.

“Biasanya setiap malam Jum’at ramai oleh peziarah dari berbagai daerah Subang atau luar daerah, seperti dari Bandung,” paparnya.

Kedatangan para peziarah dengan maksud beragam.

“Biasanya ‘ngalap berkah’, berdoa. Seperti berdoa ingin jodoh, kekayaan, jabatan, dan lainnya,” tuturnya.

Tokoh pemuda yang juga Ketua Karang Taruna Desa Cimanggu, Japar, menyebut, di kawasan bebukitan hutan yang didominasi bambu ini, ada tiga lokasi makam tokoh yang dikeramatkan.

Lokasinya cukup berdekatan dan masing-masing terletak di kawasan rerumpunan bambu. Bentuk makamnya pun sama: sederhana, permukaan tanah rata berlumut, dikelilingi batu, dan penanda (tunggul) makamnya juga dari batu.

Lokasi pertama adalah makam Eyang Haji Jaya Kusuma bersama istrinya. Kedua, makam Eyang Badra Kusuma alias Eyang Santri, dan lokasi ketiga, makam Eyang Tirta Kusuma alias Eyang Kuwu.

“Khusus di lokasi makam Eyang Santri, ada juga makam Eyang Sapingping (Satu Paha). Disebut Sapingping, karena konon yang dimakamkan disini adalah bagian pingping atau paha Si Eyang saja. Sedangkan bagian pingping atau paha, termasuk bagian tubuh lainnya, dikubur di tempat lain. Karena konon, Eyang ini memiliki ilmu kebal sehingga bagian tubuhnya dikubur terpisah. Makanya, biasanya yang ziarah ke makam ini ada maksud untuk ngelmu kekebalan atau kedigjayaan,” jelas Japar.

 

Karang Taruna Cimanggu Minta Pemkab Benahi Prasarana Makam

Saat ini, kondisi ketiga makam keramat tampak kurang terawat, termasuk akses jalan menuju lokasi tersebut yang belum baik. Bahkan, bangunan gubuk yang sebelumnya ada menaungi makam-makam itu, kini hanya tersisa batu-batu bekas pondasi tiang gubuk serta tumpukan genting di pinggir makam.

Pihaknya berharap, kondisi makam berikut infrastruktur penunjang yang dibutuhkannya bisa diperhatikan oleh Pemkab Subang. Termasuk penentuan atau penunjukkan kuncen atau juru kunci makam yang hingga kini belum jelas.

“Kuncen yang lama kan sudah enggak ada. Dan setahu kita memang ada 3 orang yang konon ditugaskan, tapi sampai sekarang enggak jelas. Makanya makam-makam ini tetap saja kurang terawat. Kami berharap, instansi berwenang di Pemkab Subang memperhatikan keberadaan makam-makam ini, karena banyak dikunjungi peziarah, sehingga fasilitas-fasilitasnya perlu dibenahi, seperti mushola, MCK, tempat wudhu, akses jalan, termasuk lampu penerangan maupun sarana bangunan di kompleks makam agar peziarah nyaman berdoa. Dan tentu yang juga penting, perlu segera ditunjuk kuncen atau juru kunci makam, sehingga yang merawatnya jelas,” pungkas Japar.

 

Ahya Nurdin & Tim Redaksi Indowarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini