Rabu, Juni 23, 2021

Tahun 2027! Patimban Jadi Pelabuhan Terbesar di Indonesia

SERING DIBACA

Sambut HUT Bhayangkara Ke 75, Polsek Pamanukan Berikan Bantuan Sembako Untuk Purnawirawan Warakawuri dan Lansia

SUBANG - Dalam Rangka HUT Bhayangkara ke 75 Polsek Pamanukan menggelar bakti sosial pemberian paket sembako kepada para Purnawirawan...

Covid-19 Meningkat! Dinkes Subang Akan Sulap RUANG BERSALIN di 17 Puskesmas Jadi Tempat Perawatan Pasien Covid-19

  SUBANG - Kasus Covid-19 di Kabupaten Subang dari hari ke hari di bulan Juni 2021 terus meningkat signifikan. penambahan...

Hari Ini Jumat(18/6/2021)! 238 Orang Warga Subang Terpapar Covid-19 & 5 Orang Meninggal Dunia.

  SUBANG - Kasus Covid-19 di Kabupaten Subang dari hari ke hari di bulan Juni 2021 terus meningkat signifikan. penambahan...

SUBANG-Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat, disiapkan menjadi pelabuhan maha besar di sisi timur Jakarta, pesaing Pelabuhan Tanjung Priok. Rencana Pelabuhan Patimban bakal soft launching pada November 2020 nanti. Awalnya lokasi pelabuhan ini akan dibangun di Cilamaya, Karawang tapi batal.

Sejakawal dibangun, pelabuhan ini disiapkan untuk mendukung kegiatan ekspor-impor menunjang pelabuhan yang telah eksisting sebelumnya, yaitu Tanjung Priok. Model semacam ini sudah diterapkan di Thailand dengan kehadiran Pelabuhan Laem Chabang yang jaraknya 80 Km dari Bangkok.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah mengatakan bahwa Pelabuhan Patimban pada tahun 2027 akan menjadi pelabuhan besar yang akan difungsikan untuk kegiatan ekspor industri otomotif dari Indonesia ke luar negeri.

“Kita ingin ini jadi sebuah hub [pelabuhan pengumpul] besar untuk otomotif dan logistik yang kita ekspor ke Australia, New Zealand dan negara-negara ASEAN, semua berangkat dari Patimban ini. Ini semua dalam rangka memperbaiki daya saing kita,” ungkapnya dalam beberapa kesempatan.

Proyek Pembangunan Pelabuhan Patimban secara keseluruhan dilakukan dalam 3 tahap. Tahap 1 fase 1, akan diselesaikan pada bulan November 2020 dengan kapasitas kapasitas 218.000 kendaraan untuk terminal kendaraan dan 250.000 TEUs (twenty feet equivalent unit, peti kemas ukuran 20 kaki) untuk terminal peti kemas.

Kemudian dilanjutkan dengan pengembangan pada tahap 1 fase 2 yang ditargetkan pada tahun 2021 – 2023, dengan kapasitas optimum untuk kendaraan itu adalah 600.000 kendaraan dan kontainer sejumlah 3,75 juta TEUs.

Adapun tahap 2 dan tahap 3 akan dilakukan pada 2024-2027 yaitu dilakukan pengembangan terminal peti kemas hingga mencapai kapasitas maksimal yaitu di atas 7 juta TEUs.

Total luas pelabuhan ini adalah 654 hektare dengan rincian 300 hektare untuk terminal peti kemas dan terminal kendaraan serta 354 hektare akan diperuntukkan back up area berisi area pergudangan, perkantoran, pengelolaan, dan area bisnis.

Dengan beroperasinya Pelabuhan Patimban secara keseluruhan, diharapkan dapat mengurangi biaya logistik dengan mendekatkan pusat produksi dengan pelabuhan, memperkuat ketahanan ekonomi, mengurangi tingkat kepadatan lalu lintas (ekspor-impor) kendaraan di Tanjung Priok di Jakarta dengan pembagian arus lalu lintas kendaraan, serta menjamin keselamatan pelayaran termasuk area eksplorasi minyak dan gas.

Secara umum, Pelabuhan Patimban akan melayani jenis muatan Peti Kemas dan Kendaraan Bermotor (Car Terminal) yang diangkut menggunakan kapal-kapal berukuran besar. Car Terminal ini nantinya memiliki kapasitas tampung hingga 600 ribu kendaraan per tahun pada kondisi ultimate (sudah selesai seluruhnya).

Dengan adanya Car Terminal di Pelabuhan Patimban ini diharapkan dapat mengurangi kepadatan lalu lintas khususnya untuk ekspor-impor produk kendaraan di Pelabuhan Tanjung Priok. Selama ini, kendaraan berat termasuk angkutan ekspor-impor kendaraan menyumbang pada kemacetan lalu lintas khususnya ruas antara Bekasi-Tanjung Priok, Jakarta.

Keberadaan Pelabuhan Patimban secara umum diharapkan dapat mengurangi biaya logistik dengan mendekatkan pusat produksi dengan pelabuhan, memperkuat ketahanan ekonomi, sekaligus mengurangi tingkat kepadatan lalu lintas dari dan menuju Jakarta. Diharapkan juga, pelabuhan ini dapat mendorong ekonomi masyarakat sekitar dan juga secara nasional.

Kawasan Segitiga Emas Cirebon-Patimban-Kertajati atau yang lebih dikenal dengan Rebana diproyeksikan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) terbesar di Indonesia dengan dukungan konektivitas Pelabuhan Patimban dan Bandara Kertajati.

Di sisi lain, Kementerian Perhubungan juga tak melupakan Pelabuhan Priok. Pelayanan arus bongkar muat (throughput) petikemas di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok diharapkan dapat meningkat menjadi 8 juta TEUs. Pada tahun 2018 lalu, layanan di pelabuhan ini sudah mencapai 7,5 juta TEUs.

Demikian disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi hari ini, Minggu (9/10) saat berkesempatan meninjau Terminal Petikemas Koja di Kawasan Pelabuhan Tanjung Priok.

Bahkan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pernah menyebut adanya peningkatan potensi kapasitas di Pelabuhan Tanjung Priok. Dia menilai bahwa peningkatan throughput ini masih dapat terus di upayakan hingga mencapai 10-12 juta TEUs per tahun.

“Kalau mau dinaikkan jadi 10-12 juta TEUs masih bisa, masih ada kapasitas tak perlu memperbesar pelabuhan. Yang perlu dilakukan bagaimana dari pelabuhan-pelabuhan di Surabaya, Makassar, Palembang terkonsolidasi ke sini. Sehingga kapal-kapal besar datang ke sini frekuensinya lebih banyak,” jelas Budi Karya melalui keterangan resmi yang dikutip CNBC Indonesia, (25/9/20).

Peningkatan throughput tentu akan didukung dengan pelayanan arus bongkar muat yang di maksimalkan pada akhir pekan yaitu hari Sabtu dan Minggu. Peningkatan pelayanan ini dilakukan agar arus bongkar muat tidak hanya menumpuk di hari Kamis dan Jumat.

“Selama ini barang-barang itu relatif tidak maksimal di Sabtu Minggu, oleh karenanya saya minta ke tim untuk aktifkan Sabtu Minggu. Kita mesti masuk. Terima kasih pihak karantina dan bea cukai datang semua sehingga jadi ada suatu kenaikan,” ujarnya.

“Kalau ada pelayanan maka ini bisa beroperasi tidak hanya 1 kali seminggu tapi bisa 2-3 kali, kemacetan juga berkurang. Bayangkan kalau berkumpul di Kamis dan Jumat maka keluar masuk dari sini jadi mengantri,” lanjutnya.

Persoalan kemacetan memang jadi aspek penting dalam sistem logistik. Karenanya, dalam proyek Pelabuhan Patimban, akses menuju lokasi juga jadi perhatian.

Ruas tol baru untuk akses Pelabuhan Patimban – Tol Cipali sepanjang 37 kilometer akan segera dibangun. Tol ini akan menjadi urat nadi bagi Pelabuhan Patimban, Subang, Jawa Barat, yang digadang-gadang menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono pernah mengatakan pembangunan jalan memiliki peran penting sebagai “backbone” dalam pengembangan konektivitas antar wilayah dalam rangka memperlancar distribusi logistik di Indonesia. Selain itu, pembangunan tol memiliki prospek investasi yang baik dan kehadirannya sudah ditunggu oleh masyarakat dan pelaku usaha.

Ia mencontohkan Jalan Tol Akses Patimban yang tersambung dengan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) dan Pelabuhan Patimban yang segera menjadi pelabuhan cargo terutama untuk ekspor mobil. Jalur tol ini akan menjadi kawasan ‘gemuk’ yang akan berkembang kawasan industri baru.

“Jalan Tol Akses Patimban nanti tidak hanya menghubungkan Patimban dengan Jalan Tol Cipali saja, tetapi juga melayani sepanjang tol ini. Nanti sepanjang Tol Akses Patimban akan muncul kawasan-kawasan industri baru. Makanya kita pilih karena di sana sudah ada kawasan calon industri baru dan ini akan sangat menguntungkan investasi Jalan Tol Akses Patimban,” kata Basuki beberapa waktu lalu.

Jalan tol baru sepanjang 37 Km merupakan akses penting, dan termasuk proyek yang melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Proyek ini satu dari enam proyek infrastruktur senilai Rp 80,84 triliun yang ditawarkan ke investor pada Mei 2020 lalu melalui market sounding.

Adapun pemrakarsa Akses Tol Pelabuhan Patimban yakni konsorsium antara PT Jasa Marga (50 %), PT Surya Semesta Internusa (25 %), PT Daya Mulia Turangga (10 %), dan PT Jasa Sarana (10 %) dengan nilai investasi sebesar Rp 7,5 triliun.

Jalan Tol akses Pelabuhan Patimban tersebut, rencana konstruksinya akan dimulai pada Januari 2022 dan ditargetkan akan beroperasi pada 2024. Selain tol, pemerintah juga membangun jalan nasional akses ke Pelabuhan Patimban sepanjang 8,2 Km.

Keberadaan Pelabuhan Patimban yang didukung oleh aksesnya dari jalan Pantura tersebut diharapkan dapat meningkatkan aktivitas ekspor yang bersumber dari kawasan industri di sekitar Cikarang-Cibitung-Karawang hingga Cikampek, dan memfasilitasi arus logistik nasional.

Basuki menjelaskan, penyelesaian pembangunan Jalan Akses Pelabuhan Patimban juga menjadi salah satu dari tindak lanjut pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan mantan Perdana Menteri Jepang periode 2007 – 2008 Yusuo Fakuda yang juga Ketua Asosiasi Jepang – Indonesia pada beberapa waktu lalu.

“Jalan akses ini merupakan wujud nyata dari kerja sama bilateral Indonesia-Jepang dengan skema pinjaman senilai Rp 1,2 Triliun. Untuk itu harus bisa dikerjakan dan diselesaikan tepat waktu. Saat ini progres konstruksi mencapai 98,3 %, dan ditargetkan selesai pada 30 Oktober 2020,” kata Menteri Basuki.

Jalan akses Pelabuhan Patimban dibangun dengan 3 tipe konstruksi di mana sebagian besar adalah elevated (jalan layang) di atas persawahan dengan tanah lunak. Ketiga tipe struktur itu adalah pile slab sepanjang 5,9 Km, flyover sepanjang 1,6 Km, dan flexible pavement sepanjang 0,7 Km.

Sumber: cnbcIndonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERBARU

REKOMENDASI BERITA UNTUKMU